Dulu saya pikir jadi pengusaha kecil itu artinya harus selalu ada di tempat. Toko buka jam tujuh pagi, tutup jam sembilan malam, dan kalau bisa hari Minggu pun tetap buka. Logikanya sederhana: makin lama buka, makin banyak yang beli. Makin banyak yang beli, makin besar pemasukan. Dan pemasukan itu, kan, buat keluarga juga.
Yang saya nggak sadar waktu itu: keluarga yang saya bela mati-matian justru jadi yang paling sering saya tinggalkan.
Baca juga: Anak Dekat Tanpa Dompet Tebal: Cara Karyawan Kantoran Menyiasatinya
Anak Saya Pernah Nanya, "Bapak Kerja Terus, Ya?"
Kejadiannya sekitar dua tahun lalu. Anak saya yang waktu itu masih TK pulang sekolah, dan seperti biasa saya sedang di toko. Dia ikut ibunya mampir sebentar buat antar makan siang. Saya sambut sambil tetap megang nota dan ngobrol sama supplier lewat telepon. Anak saya cuma diam, lihatin saya, lalu nanya ke ibunya dengan suara yang saya dengar sendiri:
Baca Juga: construirmais.com
"Bapak kerja terus, ya? Nggak pernah main sama aku."
Sakit, jujur. Bukan karena anaknya ngambek atau nangis. Justru karena dia nanya dengan datar, seperti sudah menerima kenyataan. Seperti itu sudah jadi hal normal di kepalanya. Dan yang paling bikin saya kena: saya nggak bisa bilang dia salah.
Malam itu saya hitung-hitung. Dalam seminggu terakhir, berapa jam saya benar-benar hadir buat dia? Bukan sekadar ada di rumah sambil buka HP cek pesanan. Tapi hadir. Ngobrol, main, dengerin cerita sekolahnya. Jawabannya memalukan.
Pelajaran Pertama: Hadir Itu Bukan Sekadar Ada
Ini yang saya pelajari dengan susah payah. Selama ini saya merasa sudah jadi bapak yang baik karena saya ada di rumah setiap malam. Tapi "ada" dan "hadir" itu beda jauh.
Saya sering duduk di sofa, badan di rumah, tapi kepala masih di toko. Mikirin stok yang kurang, mikirin chat pelanggan yang belum dibalas, mikirin supplier yang telat kirim. Anak saya cerita soal temannya di sekolah, dan saya jawab "oh gitu" tanpa benar-benar dengar. Dia mungkin kecil, tapi dia tahu bedanya.
Jadi saya coba satu hal sederhana: setiap habis maghrib sampai jam tidur, HP saya taruh di ruangan lain. Bukan silent, tapi benar-benar jauh dari jangkauan. Kalau ada telepon penting, ya, nggak keangkat. Dan ternyata dunia nggak kiamat. Pelanggan tetap chat besoknya, dan urusan toko tetap selesai.
Yang berubah justru anak saya. Dia mulai cerita lebih banyak. Tentang guru yang galak, tentang teman yang jahil, tentang mimpi semalam. Hal-hal kecil yang dulu nggak pernah saya dengar karena saya selalu "sibuk".
Pelajaran Kedua: Skala Prioritas Itu Harus Dibuktikan, Bukan Cuma Diucapkan
Semua pemilik usaha kecil pasti bilang keluarga adalah prioritas. Saya juga dulu begitu. Tapi coba lihat jadwal harian kita. Kalau 12 jam sehari buat toko dan 1 jam buat anak, apa artinya ucapan "keluarga prioritas"?
Saya nggak bilang kita harus tutup toko jam tiga sore dan pasrah usaha gulung tikar. Itu nggak realistis, apalagi buat yang baru merintis. Tapi ada banyak hal yang bisa diatur kalau kita mau jujur sama diri sendiri.
- Mulai percaya sama orang lain. Dulu saya nggak bisa lepas dari toko karena merasa cuma saya yang bisa handle. Setelah saya latih satu karyawan buat buka-tutup dan urus stok harian, ternyata dia bisa. Saya cuma perlu lebih sabar ngajarinnya.
- Atur jam yang benar-benar nggak bisa diganggu. Buat saya, itu jam makan malam dan waktu sebelum tidur. Di jam itu, toko urusannya karyawan. Saya urusannya anak.
- Berani bilang "besok saja" ke pelanggan. Ini yang paling berat. Tapi pelanggan yang wajar akan maklum kalau kita balas besok pagi. Yang nggak maklum, ya, bukan pelanggan yang perlu kita kejar mati-matian.
Yang lucu, setelah saya mulai membatasi jam kerja, omzet toko nggak turun. Malah naik sedikit. Mungkin karena saya lebih fokus waktu kerja, dan nggak capek ngantuk pas ngelayanin pembeli.
Pelajaran Ketiga: Anak Belajar dari Apa yang Kita Lakukan, Bukan yang Kita Katakan
Ini yang bikin saya mikir panjang. Saya sering ceramahin anak soal pentingnya disiplin, pentingnya istirahat, pentingnya jangan main HP terus. Sementara saya sendiri kerja sampai tengah malam dan tidur sambil megang HP.
Anak-anak itu peniru ulung. Mereka nggak dengerin nasihat kita, mereka ngeliatin kebiasaan kita. Kalau saya mau anak saya tumbuh jadi orang yang seimbang, ya, saya dulu yang harus kelihatan seimbang. Nggak mungkin saya minta dia nggak kecanduan layar sementara bapaknya tiap lima menit cek notifikasi toko.
Jadi saya mulai cerita ke anak soal kerjaan saya. Bukan buat pamer sibuk, tapi buat dia paham. Saya ceritain kenapa saya harus buka toko, kenapa ada pelanggan yang rewel, kenapa kadang saya pulang capek. Dia jadi ngerti, dan anehnya dia jadi lebih sabar. Kadang dia malah bilang, "Bapak istirahat dulu, nanti main sama aku."
Kalimat itu, keluar dari mulut anak TK, rasanya lebih berharga dari omzet sebulan.
Buat Kamu yang Lagi Merintis Usaha
Saya nggak mau sok tahu soal kondisi usahamu. Mungkin kamu memang sedang di fase yang nggak bisa ditinggal, atau baru mulai dan semua masih serba manual. Saya pernah di titik itu, dan saya tahu rasanya.
Tapi satu hal yang saya harap kamu renungkan: usaha kecil bisa dibangun ulang kalau gagal. Anak nggak bisa di-rewind. Waktu yang sudah lewat ya lewat. Dan anak nggak butuh orang tua yang sempurna atau kaya. Dia butuh orang tua yang benar-benar ada.
Mulai dari yang kecil saja. Matikan HP satu jam tiap malam. Dengerin ceritanya tanpa menyela. Main sama dia tanpa mikirin toko. Lakukan konsisten, dan lihat sendiri bedanya dalam beberapa bulan.
Saya sudah membuktikannya. Pelanggan saya masih di sana, usaha saya masih jalan. Dan anak saya sekarang nggak nanya lagi "bapak kerja terus, ya?". Sekarang dia nanya, "nanti malam main lagi, ya, Pak?"
Itu perubahan yang nggak akan pernah saya tukar sama jam buka toko yang lebih panjang.