Selasa, 3 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
buzzadd.combuzzadd.com
buzzadd.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Sering Tinggal Tugas, Sering Traveling: 4 Salah Po...

Sering Tinggal Tugas, Sering Traveling: 4 Salah Pola Asuh

Orang tua yang sering dinas luar kota rentan melakukan kesalahan pola asuh tanpa sadar. Ini yang perlu dihindari.

Sering Tinggal Tugas, Sering Traveling: 4 Salah Pola Asuh

Gue pernah seminggu penuh di luar kota buat urusan kerja, dan pulang-pulang anak gue yang umur lima tahun malah nanya ke ibunya, "Ayah masih di hotel?" Itu kalimat yang nyilet banget. Bukan karena dia nggak sayang, tapi karena dia udah kebiasa nggak ada gue di rumah. Dari situ gue sadar, jadi orang tua yang sering bepergian itu ada jebakan-jebakannya sendiri. Dan jebakan ini nggak kelihatan sampai akhirnya hubungan sama anak atau pasangan mulai renggang.

Nah, buat kamu yang kerjaannya mobilitas terus—entah dinas luar kota, proyek lapangan, atau memang hobi jalan—ini beberapa kesalahan yang sering banget kejadian, plus cara ngindarinya.

1. Ngarep Kualitas Waktu Gantiin Kuantitas

Ini kesalahan paling klasik. Banyak orang tua yang sering pergi lalu mikir, "Yang penting kan waktu barengnya berkualitas." Kedengeran bijak, tapi prakteknya sering jadi alasan buat nggak hadir.

Baca juga: Ibu Sibuk, Cek 7 Hal Kecil yang Bikin Anak Tetap Dekat

Masalahnya, anak itu nggak ngerti konsep "quality time". Yang dia ngerti cuma: ayah/ibu ada atau nggak. Kalau kamu cuma punya dua jam seminggu bareng anak tapi pengennya langsung deep talk atau jalan-jalan seru, yang ada malah tekanan. Anak jadi merasa harus "perform" karena waktunya terbatas.

Yang lebih sehat: hadir rutin walau singkat. Video call lima menit tiap malam sebelum tidur itu jauh lebih ngebangun kedekatan daripada liburan mewah sebulan sekali. Konsistensi menang lawan intensitas. Percaya deh.

2. Kompensasi Rasa Bersalah dengan Barang

Ini jebakan yang gue alami sendiri. Pulang dari perjalanan, tangan rasanya gatel pengen beliin anak mainan atau gadget. Rasanya kayak, "Ya udah lah, gue sering ninggalin dia, minimal gue beliin ini."

Sekali dua kali nggak masalah. Tapi kalau jadi pola, anak belajar sesuatu yang salah: bahwa kehadiran bisa diganti barang. Lama-lama dia nggak excited lagi sama kedatangan kamu—dia excited sama oleh-olehnya. Itu beda tipis tapi fatal.

Anak yang dibiasakan dikasih barang setiap kali ditinggal akan tumbuh jadi orang dewasa yang nyari validasi lewat materi. Bukan karena dia rakus, tapi karena itu satu-satunya bahasa kasih yang dia kenal dari orang tuanya.

Ganti mainan sama ritual kecil. Misalnya, setiap pulang kamu masak sarapan bareng anak, atau baca buku cerita yang sama tiap malam. Ritual itu yang nempel, bukan barangnya.

3. Nggak Libatkan Pasangan atau Pengasuh dalam "Sistem"

Kalau kamu sering pergi, rumah tetap jalan tanpa kamu. Di situlah risikonya: kamu jadi tamu di rumah sendiri. Kamu nggak tahu jadwal anak, nggak tahu dia lagi suka makanan apa, nggak tahu guru lesnya siapa. Dan pas kamu pulang, kamu bingung kenapa anak lebih dekat sama pengasuhnya daripada sama kamu.

Ini bukan salah anak, dan bukan salah pengasuhnya juga. Ini soal kamu nggak masuk ke sistem keluarga.

Solusinya sederhana tapi butuh disiplin: tetap ikut rapat kecil soal anak. Minta pasangan atau pengasuh update rutin, bukan cuma soal yang penting-penting, tapi juga hal receh kayak "hari ini dia nggak mau makan sayur" atau "dia lagi takut gelap". Hal-hal receh inilah yang bikin kamu tetap nyambung.

Bikin grup kecil khusus urusan anak

Gue sama istri punya grup chat bertiga sama pengasuh anak. Isinya update harian, foto, keluhan. Nggak harus panjang, yang penting rutin. Dari situ gue bisa ikut nimbrung walau lagi di kota lain. Anak juga jadi tahu, "Oh ayah tahu aku hari ini jatuh dari sepeda."

4. Nunda Omongan Susah Sampai "Pas Ada Waktu"

Ini yang paling sering nggak disadari. Karena jarang ketemu, banyak orang tua nunda pembicaraan penting: soal nilai sekolah yang turun, soal perilaku yang mulai melenceng, soal perasaan yang lagi nggak enak. Alasannya, "Nanti aja pas aku pulang, biar nggak rusak momennya."

Padahal, momen yang "pas" itu nggak pernah datang. Yang ada malah masalahnya numpuk, dan pas kamu pulang, obrolannya jadi satu sesi marah besar. Anak kaget, kamu capek, dan ujung-ujungnya nggak ada yang selesai.

Lebih baik obrolin hal-hal kecil sambil jalan. Video call sambil nanya, "Tadi di sekolah ada yang bikin kesel nggak?" Itu jauh lebih efektif daripada nunggu pulang lalu langsung interogasi. Anak butuh latihan ngomong terbuka, dan itu dibangun dari obrolan-obrolan kecil yang rutin.

Yang Perlu Diingat

Jadi orang tua yang sering bepergian itu bukan dosa. Banyak anak tumbuh hebat dengan orang tua yang bekerja keras di luar rumah. Yang bikin beda bukan seberapa sering kamu pergi, tapi seberapa nyambung kamu sama hidup anak waktu kamu ada.

Kuncinya bukan di durasi, tapi di kehadiran yang beneran hadir. Bukan cuma raga yang pulang, tapi pikiran dan perhatian yang ikut pulang. Kalau kamu bisa jaga itu, jarak bukan masalah. Kalau nggak, sedekat apa pun rumahmu, anak tetap merasa kamu jauh.

Gue sendiri masih belajar sampai sekarang. Kadang masih kalut, masih suka beliin mainan karena rasa bersalah. Tapi setidaknya sekarang gue tahu jebakannya di mana. Dan tahu jebakan itu udah setengah jalan buat ngindarinya.

Tags: pola asuh orang tua traveling hubungan keluarga parenting jarak jauh kesalahan pengasuhan