Gue tumbuh di sebuah kecamatan kecil, tempat semua orang saling kenal dan urusan anak seolah jadi urusan bersama. Kalau ada anak rewel di warung, tiga ibu langsung kasih saran. Kalau ada anak dapat nilai jelek, besoknya satu kampung tahu. Situasi kayak gini sebenarnya hangat, tapi juga bikin kita sering meniru pola asuh yang diwariskan turun-temurun tanpa pernah ditanya: ini bener nggak, sih?
Nah, di artikel ini gue mau bahas beberapa kesalahan yang paling sering gue lihat — dan yang dulu juga gue alami sendiri — plus cara menghindarinya. Bukan buat nyalahin siapa-siapa, tapi biar kita nggak terus-terusan mengulang hal yang sama ke anak kita.
Baca juga: Kenapa Sebulan Coba Pola Asuh Baru Bikin Rumah Lebih Tenang?
Ngebandingin Anak dengan Sepupu atau Anak Tetangga
Ini yang paling sering. "Lihat tuh si Andi, udah bisa baca, kamu belum." Atau "Anak Bu RT itu mau bantuin ibunya, kamu maunya main HP terus." Niatnya sih biar anak termotivasi. Kenyataannya? Anak cuma dengar satu pesan: kamu nggak cukup bagus.
Gue pernah ngalamin ini waktu kecil. Setiap kali nilai ulangan gue kalah sama sepupu, om gue pasti nyebut nama sepupu itu di depan keluarga besar. Sampai sekarang gue inget rasanya. Bukan motivasi yang tumbuh, tapi rasa malu dan dendam kecil yang nggak jelas.
Cara menghindarinya sederhana tapi butuh latihan: bandingin anak dengan dirinya sendiri kemarin. "Kemarin kamu masih bingung, sekarang udah bisa. Keren." Kalimat sesederhana itu jauh lebih ngena daripada nyebut nama anak orang lain.
Menganggap Anak Diam Berarti Anak Baik
Di banyak rumah di kampung, anak yang nggak banyak tingkah dianggap anak ideal. Nggak nanya macam-macam, nggak protes, nurut aja. Padahal anak yang terlalu diam bisa jadi sedang menahan banyak hal — takut, bingung, atau merasa nggak didengar.
Gue punya keponakan yang dulu hampir nggak pernah cerita apa-apa. Ibunya bangga, katanya "anaknya gampang diatur". Ternyata waktu SMP dia mulai sering sakit perut sebelum sekolah. Setelah dibawa ke puskesmas dan ditanya baik-baik, baru ketahuan dia sebenarnya sering diejek teman tapi nggak berani bilang.
Anak yang berani berpendapat di rumah biasanya lebih siap menghadapi dunia di luar. Diam bukan selalu tanda baik — kadang itu tanda dia sudah menyerah buat didengar.
Jadi coba biasakan bertanya hal kecil tiap hari. "Tadi di sekolah ada yang lucu nggak?" Lebih baik lagi kalau kita juga cerita hal receh kita. Anak belajar bahwa ngobrol itu aman, bukan cuma soal ujian dan nilai.
Memberi Hadiah Barang Setiap Kali Anak Menurut
Ini jebakan yang gampang banget kena, apalagi buat orang tua yang kerja keras dan pengen lihat anaknya senang. Anak mau nurut? Beliin jajan. Anak beresin kamar? Beliin mainan. Lama-lama anak belajar bahwa menuruti orang tua itu transaksi, bukan kebiasaan.
Kenapa ini bermasalah dalam jangka panjang
Begitu hadiahnya berhenti — karena uang lagi tipis, misalnya — anak juga berhenti menurut. Lebih parah, anak jadi nggak tahu kenapa beres-beres kamar itu penting. Dia cuma tahu itu penting kalau ada imbalannya.
Solusinya bukan berarti nggak boleh kasih hadiah sama sekali. Boleh, tapi jangan dijadikan rutinitas harian. Ganti dengan pujian yang spesifik: "Makasih ya udah bantuin angkat beras, ibu jadi cepat selesai." Anak butuh dihargai, bukan selalu dibayar.
Menyerahkan Urusan Mendidik Sepenuhnya ke Sekolah
Ada anggapan yang masih kuat di banyak desa: "Yang penting anak sekolah, urusan akhlak biar guru yang ngajarin." Padahal guru di sekolah ngurus puluhan anak sekaligus. Yang bisa kasih perhatian satu-satu cuma kita di rumah.
Ini bukan soal nyalahin sekolah. Justru kebalikannya — kita perlu sadar bahwa sekolah itu tempat belajar ilmu, sementara cara bicara, cara minta maaf, cara menghargai orang lain, itu dipelajari dari melihat orang tuanya tiap hari. Kalau di rumah orang tua suka membentak, jangan heran anak juga membentak temannya.
Gue inget pesan almarhum kakek gue: "Anak itu lebih percaya apa yang dia lihat daripada apa yang dia dengar." Sampai sekarang gue rasa itu masih berlaku, di kota maupun di kampung.
Lupa bahwa Orang Tua Juga Manusia
Kadang kita terlalu keras sama diri sendiri. Merasa harus selalu sabar, selalu benar, selalu ada. Padahal capek kerja di sawah atau di toko sampai sore itu nyata. Wajar kalau kadang kita kelepasan marah.
Yang penting bukan nggak pernah salah, tapi berani minta maaf. "Tadi bapak terlalu keras ngomongnya, maaf ya." Kalimat itu ngajarin anak dua hal sekaligus: bahwa marah itu manusiawi, dan bahwa minta maaf itu bukan tanda lemah.
Jadi kalau kamu merasa udah melakukan salah satu kesalahan di atas, santai. Nggak ada orang tua yang sempurna. Yang membedakan adalah apakah kita mau berhenti sebentar, mikir, lalu memperbaiki caranya sedikit demi sedikit. Anak nggak butuh orang tua yang tanpa cela — dia cuma butuh orang tua yang mau terus belajar bareng dia.