Selasa, 3 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
buzzadd.combuzzadd.com
buzzadd.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Coba Sebulan Matikan Laptop Jam 8 Malam, Ini yang ...

Coba Sebulan Matikan Laptop Jam 8 Malam, Ini yang Berubah

Sebulan eksperimen kecil sebagai pekerja kantoran: menutup laptop jam 8 malam. Ternyata efeknya ke anak dan rumah jauh lebih besar dari dugaan.

Coba Sebulan Matikan Laptop Jam 8 Malam, Ini yang Berubah

Gue kerja di kantor. Delapan jam sehari depan layar, belum termasuk grup WhatsApp yang bunyi terus sampai tengah malam. Sampai suatu hari anak gue yang masih TK nanya sambil manggil dari kamar: "Ayah, kalau di rumah kok masih kerja terus?"

Nah, kalimat itu nyangkut. Bukan karena gue nggak sadar, tapi karena gue selalu punya alasan. Deadline, bos, meeting pagi. Semua terasa penting. Padahal yang nanya di kamar itu juga penting, cuma nggak bisa ngirim email.

Jadi gue coba satu eksperimen sederhana selama sebulan: laptop ditutup jam 8 malam. Nggak peduli kerjaan selesai atau belum. HP masih boleh, tapi buat hal darurat aja. Ini bukan saran parenting hasil seminar. Ini catatan jujur dari rumah gue sendiri, lengkap sama bagian yang gagalnya.

Minggu Pertama: Rasanya Kayak Berhenti Jadi Orang Produktif

Jujur, tiga hari pertama gue canggung banget. Jam 8 malam, anak masih main, istri masih beresin dapur, dan gue duduk di sofa kayak tamu yang nggak tau harus ngapain. Tangan gatal pengen buka laptop lagi. Ada rasa bersalah aneh, kayak gue ninggalin tanggung jawab.

Baca juga: Bukan Soal Waktu, Tapi Soal Hadir: Pola Asuh yang Bikin Anak Terbuka

Malam kedua, gue akhirnya ikut nimbrung main puzzle sama anak. Bukan main yang serius, cuma nyocokin kepingan sambil ngobrol ngalor-ngidul. Dan anak gue, yang biasanya jawab seadanya kalau ditanya, tiba-tiba cerita panjang soal temannya yang jatuh dari kursi di sekolah. Detail banget, sampai ekspresinya segala.

Gue baru sadar: selama ini gue sering "ada" di rumah tapi nggak benar-benar hadir. Badan di sofa, kepala di kantor.

Yang Berubah Setelah Dua Tiga Minggu

Memasuki minggu ketiga, ada beberapa hal yang kerasa bedanya. Nggak dramatis, tapi nyata.

  • Anak mulai nyariin jam 8. Dia nggak tau konsep "laptop ditutup", tapi dia tau kalau sekitar jam segitu ayahnya biasanya udah bisa diganggu. Dia mulai bawa buku sendiri, minta dibacain.
  • Istri lebih santai. Ini yang nggak gue duga. Ternyata selama ini dia ngerasa sendirian ngurus rumah sambil lihat gue sibuk di sudut ruangan. Sekarang ada yang bantuin, minimal nemenin.
  • Gue tidur lebih cepat. Efek samping yang nggak direncanakan. Karena nggak buka laptop, nggak ada "cek email sebentar" yang berubah jadi dua jam.
  • Kerjaan kantor nggak hancur. Ini poin penting. Nggak ada bencana. Ternyata banyak hal yang gue kerjain malam itu bisa dikerjain besok pagi dengan kepala lebih segar.

Ada satu momen yang bikin gue diem. Sekitar minggu keempat, anak gue bilang ke temennya waktu main di rumah: "Ayahku kalau malam nggak kerja, dia main sama aku." Gue denger dari dapur. Kalimat sesederhana itu, tapi kok rasanya berat.

Bagian yang Nggak Semulus Itu

Gue nggak mau nulis ini kayak artikel motivasi yang semuanya indah. Ada harinya gagal. Minggu kedua, ada deadline mendesak, laptop akhirnya dibuka lagi jam 9 dan baru tutup jam 11. Anak udah tidur. Besoknya dia agak rewel, dan gue ngerasa bersalah setengah mati.

Ada juga hari di mana gue tutup laptop jam 8 tapi kepala masih penuh sama kerjaan. Jadi gue duduk di samping anak sambil melamun. Itu sama aja bohong. Akhirnya gue belajar satu hal: yang penting bukan cuma laptopnya ketutup, tapi kepala gue juga harus ikut turun dari meja kerja.

Anak nggak butuh orang tua yang selalu ada 24 jam. Mereka butuh waktu di mana kita benar-benar utuh buat mereka, walau cuma satu jam.

Kalau Kamu Mau Coba, Mulai dari yang Realistis

Gue nggak nyaranin kamu langsung tiru jam 8 malam. Tiap kantor beda, tiap rumah beda. Yang gue pelajari dari sebulan ini cuma satu: batas itu harus dibuat, bukan ditunggu datang sendiri. Kerjaan kantoran nggak akan pernah selesai dengan sendirinya. Kalau nunggu semua beres baru main sama anak, ya nggak akan pernah kejadian.

Buat kamu yang juga pekerja kantoran, coba mulai kecil aja. Pilih satu jam. Matikan notifikasi, tutup laptop, taruh HP di ruangan lain. Nggak usah langsung tiap hari. Dua tiga kali seminggu dulu. Yang penting konsisten, karena anak belajar dari pola, bukan dari satu malam yang sempurna.

Dan satu lagi: jangan tunggu sampai ada yang nanya "kok masih kerja terus?" dari balik pintu kamar. Karena begitu pertanyaan itu keluar, biasanya kamu udah agak telat nyadarnya.

Sebulan ini nggak bikin gue jadi ayah sempurna. Masih banyak bolongnya. Tapi rumah kerasa lebih hangat, obrolan lebih panjang, dan gue jadi tau satu hal yang selama ini gue tunda: ternyata anak gue seru diajak ngobrol.

Tags: parenting pekerja kantoran work life balance hubungan keluarga kebiasaan malam